Cerita Dibalik Penutupan TPST Piyungan
Hari Senin (26/3) kala itu bangunku agak siang, karena pada malam sebelumnya ada hasrat maraton film yang tak bisa kutahan. Baru sadar, ternyata ada kabar kalau TPST Piyungan sedang berprahara.
Sudah tugas wajib untuk mengecek langsung ke lapangan jikalau ada kejadian. Kala mata masih ngantuk, segera bergegas ku ambil handuk dan tak lupa menyalakan keran. Begitu selesai, mulailah rangkaian kegiatan harian yang pasti selalu terulang.
Pagi itu begitu terik, sambil memanaskan mesin motor, nafas panejang yng bercampur keluhan berulang kali kukeluarkan. "Kenapa harus Piyungan," batinku.
Sekitar setengah jam kemudian, sampailah ditempat aku mencari bahan untuk tulisan. Beruntung pada saat itu banyak teman seprofesi, jadi gak kebingungan untuk tahu siapa narasumber yang kucari.
TPST Piyungan, berdiri sejak tahun 1995 tempat ini menjadi tempat pembuangan sampah di tiga daerah di Yogjakarta. Diantaranya Bantul, Sleman, dan Kota Jogja dan tiap satu daerah menyumbang sebanyak 600 ton sampah perharinya, itu menurut data DLH yaa.
Pertama kali datang ke tempat ini, yang kurasakan adalah takjub dan agak bercampur rasa mual, dikarenakan mau muntah akibat bau yang selalu menusuk. Apalagi perjalanan ketempat ini juga cukup menantang, takut seumpama ban selip lalu jatuh ditanah yang begitu mirip comberan.
Bagaimana tidak takjub, 23 tahun hidup di Jogja baru kali ini aku lihat gunungan sampah yang begitu besar. Terlebih lagi, ada pula satwa endemik yaitu ratusan ekor sapi yang seolah tak peduli walau ku bunyikan klakson berulang kali. "Heran, sapi disini gemuk-gemuk dan tandukmya besar-besar ternyata," kataku dalam hati.
Melewati beberapa pemukiman pemulung, hingga sampailah aku di tempat aku mengambil foto ini, langit juga terlihat gelap seakan menambah begitu kelamnya kehidupan di Piyungan. Disaat mengambil beberapa gambar, entah kenapa tiba-tiba tertawa, karena ada yang menyeletuk kalau ini sebuah tempat wisata.
Lanjutlah perjalanan untuk mencari narasumber yang bisa diwawancarai. Setelah beberapa kali berhadapan dengan kubangan, bertemulah dengan Pak Maryono, beliau sendiri adalah Ketua Pemulung disini. Orangnya sangat ramah dan sopan ketika ditemui para pencari berita.
Beliau sendiri adalah orang yang bertanggung jawab penutupan TPST Piyungan, yang membuat masyatakat di tiga wilayah menjadi kalang kabut karena sampah. Pak Maryono adalah warga desa Dusun Ngablak, Sitimulyo Piyungan, rumahnya sangat berdekatan dengan lokasi pembuangan. Sebagai informasi, Dusun Ngablak memiliki 500 Kepala Keluarga, yang dimana setiap harinya harus berhadapan dengan dampak yang dihasilkan TPST Piyungan.
Menurut penuturannya, alasan dilakukan pemblokiran adalah kurangnya perhatian pemerintah atas infrastruktur di desanya. Akibat sering dilalui truk berukuran besar, jalan-jalan disekitar banyak menjadi becek dan membentuk kubangan. Kalau malam hari dia juga mengeluhkam minimnya penerangan. "Kalau malam gelap, dan kalau pagi anak-anak yang mau berangkat sekolah harus melapisi sepatunya pakai kantong plastik. Parah mas kondisi disini," ujar Pak Maryono.
Oh ternyata ini masalahnya. Disela wawancara, beliau begitu berharap dengan adanya kehadiran saya dan kawan-kawan seprofesi ini lalu kemudian akan berdampak pada para pemangku kepentingan. "Yasudah pak, kami akan bantu tuliskan apa yang sedang terjadi disini," ucap salah satu kawan.
Selesailah mengambil data, ingin rasanya segera pergi dari tempat ini. Ribuan lalat menyerbu ketika saya memegang handphone untuk merekam, timbulah keinginan untuk mandi lagi.
Sampai di kamar, sambil memegang handphone untuk mengetik berita yang ditunggu. Terbesit dipikiran kalau ternyata Pak Maryono ini adalah orang yang cukup berjasa. Sisi positifnya, dengan peringatan kecil dari Pak Maryono, banyak orang yang kemudian peduli dengan lingkungan.
Terhitung sudah lima hari para masyarakat merasakan sejenak bagaimana kehidupan disana. Menghirup bau serta melihat tumpukan yang banyak berserakan di pinggir jalan.
Harapku orang-orang kemudian melakukan tindakan nyata, yaitu mau mengelola sampah atau setidaknya cari cara untuk menguranginya. Tapi apalah daya, sampah yang saya hasilkan sendiri saja masih malas untuk saya kelola.
Yang penting taat bayar pajak sajalah, biar bisa bantu pembangunan infrastruktur disana. Supaya sampah mudah dibuang juga...hemmmm



Komentar
Posting Komentar